Belajar Itu Menggunakan Otak, Bukan Dengkul.


Tak Ada Kecerdasan Tanpa Otak, Siswa Bodoh Itu Mitos

Assalamu'alaikum. Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua, semoga kita selalu diberikan kesehatan, kesuksesan dalam menjalankan aktivitas hari ini dan selalu diberikan semangat dalam menuntut ilmu sebagai bekal diri sendiri dan juga bekal pengetahuan yang dapat kita sampaikan kepada orang lain, khususnya keluarga teman dekat dan siswa - siswi kita semua.

Sebuah kisah nyata yang inspiratif berikut ini telah meneguhkan keyakinan kita, bahwa tidak ada anak yang bodoh. Berikut kisahnya:

Kisah anak Papua, 4 tahun tidak naik kelas berhasil menjuarai 
Olimpiade matematika-sains tingkat Asia 

Kisah nyata mengenai sekelompok anak-anak paling “bodoh” asal Papua menjuarai Olimpiade sains tingkat dunia. Host Kick Andy, Andy F. Noya menampilkan kisah heroik keempat anak-anak asal p apua. Didampingi mentornya Prof. Yohanes Surya, anak-anak ini, Tina, Demira, Kohoy, dan Christian, adalah anak-anak yang dianggap paling “bodoh” di sekolahnya. Tina misalnya, 4 tahun tidak pernah naik kelas. Di akademi Surya, Yohanes Surya mendidik keempat anak-anak tersebut dengan strategi dan metode yang tepat. Para siswa dilatih memahami logika dasar, fungsi, dan kegunaan materi. Sebelumnya keempat anak-anak tersebut belum bisa menulis dan mengalkulasi dengan benar. Metode ajar yang tepat menekankan pada kegiatan belajar fun dan kreatif. Dengan memotivasi sisi afektif keempat anak tersebut. Yohanes Surya berhasil mematahkan teori usang, bahwa: “tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah mereka belum menemukan guru yang baik dengan metode yang tepat. 

Dalam tayangan Kick Andy, keempat anak-anak ini: Tina, Demira, Kohoy, dan Christian berhasil menjuarai Olimpiade matematika-sains tingkat Asia dengan raihan empat emas, lima perak, dan tiga perunggu. Lebih dari itu, keempat anak-anak tersebut berhasil menemukan alat pendeteksi tsunami. 

Bill Knake, manusia dengan IQ di bawah 50 adalah inspirator 
dan penulis buku 

Kisah yang dikutip dari cerita Campbell dan Dickinson (2006: 202). Saat Bill masih bayi, kedua orangtuanya memutuskan bercerai. Ibunda Bill yang mengasuh memiliki parasaan terbebani atas asuhan ini. Saat Bill berumur 9 tahun, Bill dikirim untuk tinggal di panti asuhan guna memperbaiki mentalnya, di mana Bill menghabiskan hidupnya selama 12 tahun. Selama di panti, Bill diisolasi dari keluarga, teman-temannya, dan kota kecil di mana dia tinggal. Isolasi terhadap Bill juga berpengaruh hingga “membutakannya”. Dengan pertimbangan IQ di bawah 50, Bill tidak pernah diajari membaca dan menulis. Hari-harinya di panti itu dihabiskan dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar. 

Setelah lepas dari fasilitas negara, Bill hidup dengan dukungan agensi masyarakat, guna membantu seseorang yang tumbuh dengan bentukan institusional untuk mencapai kehidupan yang lebih lengkap dan mandiri. Ketika usia 31 tahun, Bill memutuskan untuk belajar menulis dan membaca. Fasilitator agensi memberikan Bill seorang guru untuk mengajarkannya membaca dan menulis. Bill segera mengekspresikan keinginannya untuk menulis surat pada ibunya. Atas bimbingan guru, Bill mampu mengekspresikan keinginannya menulis surat pada ibunya. 

Setelah mampu mengekspresikan keinginan menulisnya, Bill menentukan tujuan berikutnya: “menulis buku”. Dengan ragu-ragu, Bill menyampaikan keinginannya menulis buku kepada guru tersebut. Enam bulan kemudian, Bill menyelesaikan bukunya, dengan judul The Inside World (Dunia Batin). “Ketekunan” dan “hasrat” Bill Knake, menjadi modalitas sangat penting bagi Bill meraih keinginannya: menulis surat buat ibundanya dan menulis buku The Inside World. Kisah Bill Knake memberikan inspirasi pada banyak orang untuk mengatur dan mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Kisah Bill Knake, menegaskan kepada kita, bahwa: tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang belum menemukan guru yang baik dan metode yang tepat. 

“Cluster-cluster” Kecerdasan

Otak adalah mesin penghasil kepandaian. Namun manusia tidak akan pandai jika tidak ada proses belajar, caranya otak harus selalu digunakan. Cara menggunakan otak dengan berpikir. Berpikir adalah belajar. Belajar tidak hanya duduk manis memperhatikan guru di kelas, tetapi juga berinteraksi adalah belajar, belajar juga dapat dilakukan dengan mengimajinasikan materi, seperti Einstein mengimajinasikan angka-angka. 

Using imagination adalah sebuah proses belajar. Tidak ada kepandaian jika tidak ada proses belajar. Allah telah menyediakan wadah kecerdasan tepatnya di dalam sel-sel otak. Dari sini, selama proses belajar berlangsung proses karya pikir diproduksi dan berkembang sampai tahap manusia mencapai puncak kompetensi maksimalnya. Kecerdasan seseorang berkembang seiring kualitas belajar yang dialaminya. 

Genetik pewaris kecerdasan anak tidak bersifat mutlak namun bersifat potensial, sebut Kazuo Murakami. Kualitas positif lingkungan dan kualitas asupan makanan turut andil memberikan pengaruh terhadap perkembangan kecerdasan seseorang. Pola asuh dalam pendidikan dengan penuh kasih sayang berpengaruh terhadap arsitektur otak. Kuantitas (jumlah informasi) dan kualitas informasi (informasi yang diulang-ulang) mampu membuat synaps (jaringan antarsel otak) menjadi banyak dan kuat. Kecerdasan anak ditentukan seberapa banyak dan kuatnya synaps. 

Penelitian otak masa kini telah menawarkan pandangan lebih luas mengenai kecerdasan. Otak adalah mesin kecerdasan sebut Hawkins dan Blakesle. Kecerdasan itu seluas samudra seperti seluas rahasia otak. Hingga kini ilmuwan belum selesai memetakan rahasia “alam semesta” otak. Makna logisnya adalah: jika kecerdasan seluas rahasia “alam semesta” otak, maka kecerdasan tidak hanya sebatas angka-angka hasil tes. Kecerdasan memungkinkan suatu kesinambungan yang dapat dikembangkan seumur hidup. Dalam konteks pendidikan, informasi di atas mengubah cara pandang menjadi, “Bukan secerdas apa Anda, tetapi bagaimana Anda menjadi cerdas." 

Pada proses belajar semuanya bersumber dari otak. Otak memliki susunan saraf yang kompleks dan canggih, jika diberi stimulus melalui proses fun learning, maka terbentuk jembatan-jembatan


pengetahuan baru. Simpul koneksi antarjembatan pengetahuan dibangun oleh ikatan antar-myelin pada neuron-neuron otak. Semakin banyak simpul antarjembatan yang terbangun, maka semakin berkualitas otak tersebut alias semakin cerdas. Dalam batok kepala manusia, miliaran saraf dan bahandasar lain tersusun sangat rapi dan kompleks. Sepertinya, Tuhan telah menciptakan setiap inci bagian otak dengan sangat canggih. Istilah kedokteran, bagian itu disebut lobus. Pembagiannya mirip cluster-cluster pada perumahan. 

Otak manusia sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.1 memiliki area-area kecerdasan seperti pada tabel berikut ini.

Posisi lobus dalam otak (lobes of the brain) merupakan ruang-ruang kecerdasan yang menegaskan bahwa: sepanjang manusia terlahir dengan memiliki otak, maka anak itu PASTI CERDAS. Stimulus edukasi yang sesuai, pola dan strategi pendidikan yang tepat, kesabaran yang melimpah ruah tanpa kekerasan, kontinuitas fun learning yang konsisten dan kesehatan tumbuh kembang yang terpelihara memungkinkan anak menjadi genius. 

Pabrik Kecerdasan

Pabrik seperti yang kita tahu adalah tempat segala sesuatu diproduksi yang hasilnya disebut produk. Misal, usaha pembuatan tempe yang diproduksi di rumah, maka usaha itu disebut pabrik tempe skala rumahan. Atau, pabrik motor yang merakit dan memproduksi motor disebut pabrik motor. Sederhananya, otak bertindak seperti pabrik yang memproduksi informasi pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan dan seterusnya hingga pada akhirnya informasi pengetahuan menjadi produk belajar atau karya intelektual. Bagaimana proses produksi yang terjadi di otak tidaklah semudah seperti pada produksi pabrik tempe dan motor. 

Paul D. Mclean, neurosains dan psikiater dari Yale Medical School, menyebut otak manusia terdiri dari tiga bagian: otak reptil, otak mamalia, dan otak neokorteks. Otak reptil bermula dari batang otak yang terhubung dengan tulang belakang. Masuknya energi informasi bergerak dari dasar otak reptil melalui otak mamalia (pusat emosi) terus ke bagian atas otak neokorteks. Artinya: ketika kita mempersiapkan diri untuk belajar, kita harus merasa nyaman secara isik. Faktor lingkungan, seperti suhu udara, tata cahaya, suara, dan area belajar harus kondusif demi memuaskan otak reptil. Anda harus memulai pembelajaran dengan sikap positif untuk memuaskan pusat emosi otak (otak mamalia). 

Ketika dua bagian pertama otak sudah puas otak pemikir dapat bekerja dengan baik. Pada makhluk hidup, otak reptil bertanggung jawab terhadap rasa aman. Perasaan akan aman adalah perilaku instingtif primitif dari makhluk hidup. Dalam konteks pembelajaran, perilaku instingtif otak reptil berhubungan dengan “rasa aman dan nyaman”. Faktor lingkungan kelas, kebersihan kelas, kerapihan dan keindahan kelas, setting kelas, suhu udara kelas, serta perasaan bersahabat dari guru sangat memengaruhi kondisi otak reptil siswa saat belajar. 

Neokorteks tak ubahnya pabrik yang mengolah dan memproses informasi menjadi pengetahuan. Namun syarat utama memasuki wilayah pabrik neokorteks adalah memenuhi persyaratan yang diinginkan batang otak (otak reptil) dan otak limbic, yaitu setting kelas ideal, apperception in the class dan strategi mengajar yang sesuai. Jika semua syarat itu dipenuhi, maka otak reptil, limbik dan neokorteks otak benar-benar berfungsi sebagai pabrik kecerdasan. Pabrik kecerdasan yang dimaksud adalah proses memori otak, seperti Gambar.

Salah Kaprah tentang Pintar 

Mari kita simak kisah-kisah berikut ini:

1. Saat masih taman kanak-kanak, Nisrina Salsabila belum bisa baca sampai jelang masuk Sekolah Dasar hingga disebut bodoh oleh kepala sekolahnya. Namun kini, Nisrina punya hobi membaca, menyenangi sains, matematika dan bahasa inggris sebagai pelajaran favoritnya, bahkan bercita-cita menjadi astronom. 

2. Di Pesantrennya Darunnajah, Vici Fanny Yunita dua kali gagal dalam ujian akhir matematika, yang membuatnya nyaris putus sekolah. Kegagalan ini telah membuat Fanny dicap sebagai santri bodoh oleh guru dan lingkungannya. Namun berkat pola kerja multiple inteligence, Fanny kini sukses bekerja sebagai staf HRD di perusahaan minyak. 

3. Tina, Demira, Kohoy, dan Christian adalah anak-anak asal Papua yang dianggap paling bodoh. Tina sendiri empat tahun tidak naik kelas. IQ mereka berempat berada pada level antara 80–90. Berkat tangan dingin Yohanes Surya, keempat anak sekolah dasar asal Papua menjuarai Olimpiade matematika-sains tingkat Asia dengan raihan empat emas, lima perak, tiga perunggu dan berhasil menemukan alat pendeteksi tsunami. Kohoy, salah satu dari mereka, bahkan bercita-cita menjadi profesor matematika. 

4. Semasa sekolah, Muksin adalah anak yang dianggap bodoh. Nilainya tidakpernah sangat memuaskan, ia pun pernah gagal pada tes Sipenmaru. Namun berhasil lulus psikotes dengan meyakinkan saat melamar kerja di perusahaan BUMN Antam. Kini di tempatnya bekerja ia adalah seorang operating analystoicer. Ia mencintai pekerjaannya yang penuh angka-angka sebagai analis. 

5. Thomas Alva Edison, dikeluarkan dari sekolah formal karena dianggap bodoh dan dianggap sering merepotkan guru dengan pertanyaan-pertanyaan nyeleneh. Namun pada akhirnya, Edison adalah ilmuwan paling bersinar karena penemuannya: Lampu. 


6. Albert Einstein, siswa yang dianggap bodoh karena pertanyaan-pertanyaan dan perilakunya dianggap aneh. Einstein kecil pernah berperilaku seperti ayam dengan cara “mengerami” telur hanya untuk mengetahui “bagaimana proses ayam sampai menetaskan telurnya.” Namun siapa sangka, Einstein di kemudian hari adalah ilmuwan hebat. 

7. Carl Sandburg, penulis cemerlang Amerika yang mengumpulkan lagu-lagu rakyat Amerika menjadi sebuah antologi. Namun siapa sangka, Sandburg pernah gagal saat ujian masuk di bidang matematika dan grammar di West Point, semacam Akabri di Indonesia. 

8. Kenichi Fukui, ilmuwan peraih Nobel bidang Kimia pada 1981. Namun siapa sangka, Fukui pernah gagal memecahkan soal kimia dari ujian masuk universitas di Jepang, walaupun soal ini merupakan bagian dari bidang keahliannya. 

9. Kazuo Murakami, ahli genetika dunia asal Jepang pernah ditolak masuk Universitas Kyoto karena nilai hasil ujiannya rendah, dan hampir ditolak masuk Universitas Rochester, Amerika karena nilainya pas-pasan. Namun siapa sangka beberapa tahun kemudian, Kazuo Murakami adalah ahli genetika terkenal dunia, dan penulis buku paling laris Ada Tuhan dalam Gen Kita. 

10. Dan masih banyak lagi. Jika disebutkan satu per satu, buku ini menjadi 1.000 halaman.

Dari kisah-kisah di atas, deinisi pintar sejatinya adalah: kemampuan perilaku-afektif yang baik, memiliki keterampilan-psikomotorik, dan kemampuan akademik-kognitif yang luas. Dalam psikologi perkembangan, ketiganya merupakan satu kesatuan dalam sistem yang saling melengkapi yang ada pada setiap individu. Daniel Goleman (2006) menyebut perilaku bodoh tidak ditunjukkan dari angka hasil ujian, namun ditunjukkan dari ketidakmampuan mengendalikan sifat emosional. 

Sejauh ini, paradigma guru dan orangtua tentang pintar cenderung salah kaprah dengan batasan deinisi yang sempit. Faktanya, sebagaimana yang ditulis Chatib dan Said (2012) anak yang berperilaku baik (soleh/solehah), oleh guru dan orangtua belum disebut sebagai “anak pintar”. Anak dengan ke terampilan yang memadai, seperti melukis, olahraga, membaca Al-Qur’an dengan benar, belum disebut sebagai “anak pintar.” Adapun, anak dengan perilaku “nakal” dan tidak terampil psikomotorik, namun dengan nilai ujian matematika, IPA, dan bahasa Inggris yang selalu mendapat sempurna di rapornya cenderung disebut “anak pintar”. Seharusnya, sebutan “anak pintar” berlaku pada semua kemampuan psikoafektif, keterampilan-psikomotorik, dan kognitif-akademik. 

Rahasia Siswa Pintar
Ketika tampil pada acara Kick Andy, Yohanes Surya membuktikkan bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah mereka belum menemukan guru terbaik dan metode yang tepat. Alhasil, keempat siswa yang dianggap paling bodoh dari Papua menjuarai Olimpiade matematika-sains tingkat Asia, setelah mereka belajar sesuai cara otak manusia belajar. 

Banyak kejadian yang kita dengar, bahwa siswa-siswa ini adalah siswa bodoh. Namun ketika kita bertanya, seperti apakah jenis kebodohan siswa-siswa itu? Jawabannya adalah, mereka memiliki nilai sangat rendah pada pelajaran tertentu. Saat siswa-siswa lain, memiliki nilai tertinggi pada pelajaran tertentu, namun dengan kelemahan perilaku sosial dan emosional, mereka tetap dianggap anak yang pintar. Sepertinya: paradigma sesat ini telah menjadi kebudayaan sekolah/guru dan orangtua di Indonesia. 

Berikut sebuah kisah mengenai kapan yang pintar menjadi bodoh yang diceritakan Goleman dalam Emotional Question.

“Jason H: siswa kelas dua yang nilainya selalu A di SMU Coral Spring, Florida, bercita-cita masuk Fakultas Kedokteran. Bukan sekadar Fakultas Kedokteran—ia memimpikan Harvard. Tetapi, Pologruto, guru isikanya, memberi Jason nilai 80 pada sebuah tes. Karena yakin bahwa nilai itu — yang hanya B—akan menghalangi cita-citanya, Jason membawa sebilah pisau dapur ke sekolah dan, dalam suatu pertengkaran dengan Pologruto di laboratorium isika, ia menusuk gurunya ditulang selangka sebelum dapat ditangkap dengan susah payah. Hakim memutuskan bahwa Jason tidak bersalah, karena pada saat itu ia dianggap gila untuk sementara selama peristiwa tersebut— Sebuah panel terdiri atas empat psikolog dan psikiater bersumpah bahwa ia gila selama perkelahian itu. Jason mengatakan bahwa, ia telah berencana untuk bunuh diri karena nilai tersebut, dan pergi menemui Pologruto untuk mengatakan kepadanya bahwa ia akan bunuh diri karena nilai yang buruk itu. Pologruto menyampaikan cerita yang berbeda: 

“Saya rasa ia betul-betul mencoba membunuh saya dengan pisau itu,” karena ia sangat marah atas nilai tersebut. Setelah pindah ke sekolah swasta, Jason lulus dua tahun kemudian sebagai juara kelas. Nilai sempurna dari kelas reguler akan memberinya angka A bulat, rata-rata 4,0, tetapi karena Jason telah mengikuti cukup banyak kursus lanjutan maka nilai rata-ratanya menjadi 4,614—jauh di atas A+. Meskipun Jason lulus dengan nilai terbaik, guru isikanya yang lama, David Pologruto, mengeluh bahwa Jason tak pernah minta maaf atau mau bertanggung jawab atas serangan tersebut.” 

Daniel Goleman, mengidentiikasikan mengenai “kapan yang pintar menjadi bodoh” adalah ketika kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa; dan manajemen sabar saat tercipta kondisi emosional. Jelas bahwa, perilaku bodoh tidak ditunjukkan oleh perolehan angka dari hasil ulangan, tetapi dari ketidakmampuan mengolah perilaku emosional. 

3 Kriteria Siswa Pintar

Secara sederhana, fungsi sekolah dan tugas guru adalah membentuk siswa pandai dengan indikator 3 kriteria. Seperti apa klasiikasi 3 kriteria itu? Berikut indikatornya:

1. Kriteria psikoafektif, merupakan perilaku-perilaku yang memenuhi unsur-unsur etika atau nilai-nilai yang ditunjukkan oleh siswa, di antaranya:
a. Siswa memiliki respons terhadap setiap materi pelajaran.
Indikatornya:
Respons siswa terhadap materi pelajaran yang ditunjukkan melalui perhatian saat guru menerangkan.
Respons siswa terhadap umpan balik dalam menjawab pertanyaan guru.
Respons siswa terhadap pengumpulan tugas sesuai jadwal yang diberikan guru.
Respons siswa terhadap suasana kelas, khususnya dalam suasana belajar mengajar.

b. Siswa memiliki respons terhadap guru.
Indikatornya:
Siswa menghargai dan menghormati guru, melalui ucapan salam dan salim.
Siswa berperangai baik (soleh dan solehah), yang ditunjukkan melalui ketaatan terhadap aturan sekolah.

c. Siswa memiliki respons terhadap teman.
Indikatornya:
Siswa menunjukkan perilaku bersahabat kepada semua teman.
Siswa menunjukkan perilaku menghormati ke sesama teman.
Siswa berempati terhadap teman ditunjukkan melalui aktivitas tolong-menolong.

d. Siswa memiliki respons terhadap lingkungan sekitar.
Indikatornya:
Lingkungan sekolah yang bersih.
Siswa membuang sampah pada tempatnya.
Siswa menjaga kebersihan lingkungan sekolah yang ditunjukkan lewat piket kebersihan yang terjadwal.

e. Siswa memiliki respons terhadap aturan sekolah.
Indikatornya:
Berperilaku disiplin.
Berperilaku sopan dan santun terhadap guru.
Berperilaku taat terhadap aturan sekolah (taat aturan).

2. Kriteria psikomotorik, merupakan aktivitas siswa yang ditunjukkan melalui keterampilan yang memenuhi unsur estetika dari sebuah karya, di antaranya:
a. Kemampuan menyampaikan pendapat/ide dan gagasan yang ditunjukkan melalui argumentasi.
Indikatornya:
Siswa terampil dalam berargumentasi secara lisan.
Siswa terampil menuangkan ide/gagasan serta pendapat melalui bahasa tulisan yang ditunjukkan melalui karya ilmiah, opini, artikel atau melalui surat pembaca.

b. Kemampuan menghasilkan karya.
Indikatornya:
Siswa terampil melakukan aktivitas percobaan/eksperimen laboratorium.
Siswa terampil dalam hal seni, seperti: memainkan alat musik, bernyanyi.
Menghasilkan karya-karya seni, seperti: lukisan dan karya olah tangan lainnya.

c. Kemampuan dalam bidang olahraga.
Indikatornya:
Siswa terampil dalam bidang olahraga.
Siswa terampil dalam memainkan alat-alat olahraga.

3. Kriteria kognitif, merupakan aktivitas akademik yang ditunjukkan melalui kemampuan menjawab soal, yang distandardisasi dengan logika benar-salah, di antaranya:
a. Kemampuan menyelesaikan masalah dengan baik dan menjawab soal dengan benar.
Indikatornya:
Nilai mata pelajaran memenuhi ketuntasan.

Konsep pandai 3 kriteria telah menjadi Standar Kompetensi Lulusan pada Kurikulum 2013. Kriteria siswa pintar di atas harus dilihat secara manusiawi. Anak dengan kapasitas psikoafektif yang baik, sudah selayaknya disebut pintar/pandai, walau sang anak lambat secara kognitif-akademik. Anak dengan kemampuan psikomotorik baik walau bermasalah dalam bidang kognitif-akademiknya, juga selayaknya disebut pintar/pandai, begitu pun sebaliknya. Rahasia mengenai siswa pintar hanyalah paradigma. Bagaimana cara pandang kita terhadap luasnya kemampuan anak adalah yang lebih penting dari sekadar angka. 

Masukkan Informasi pada Pintu Kecerdasan Siswa yang “Terbuka Lebar”

Diperkirakan sekitar 12.000.000.000 neuron bergabung membentuk otak manusia. Jika neuronneuron ini saling berinteraksi dan terhubung satu dengan lainnya, maka koneksinya menjadi tak terbatas. Koneksi yang tak terbatas, adalah potensialisasi fungsi untuk memaksimalkan kinerja otak. Maka otak, seperti ungkapan Dilip Mukerja, memungkinkan seorang menjadi genius, namun dengan syarat sepanjang fungsi otak sehat secara medis. Bagaimana kinerja otak dalam merespons proses belajarnya sangat spesiik berbeda pada setiap orang. Barbara Prashnig ahli gaya belajar asal Selandia Baru menyebut kinerja otak saat merespons proses belajar disebut sebagai gaya belajar (learning style), sementara, Bobbi DePorter, penemu teori quantum teaching menyebut sebagai modalitas belajar (learning modality). 

Gaya belajar dan modalitas belajar adalah representasi fungsi otak saat proses informasi berlangsung. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, mengklasiikasikan dua kategori utama tentang bagaimana kita belajar. Pertama, bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah (modalitas). Kedua, cara kita mengatur dan mengolah informasi tersebut (dominasi otak). Intinya gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana menyerap, lalu mengatur, dan mengolah informasi.

A. Otak yang mengisi kepala: Sebagai pusat gaya belajar, di mana setiap cluster atau bagian-bagian otak berfungsi sebagai jendela masuknya informasi. 
· Gaya belajar logis-matematis terletak pada cluster prefrontal area (warna kuning muda), yaitu bagian lobus frontal kiri dan parietal kanan. 
· Gaya belajar linguistik terletak pada cluster prefrontal area (warna kuning muda) dan premotor area (warna hijau), yaitu bagian lobus temporal kiri dan lobus frontal motor speech area, yaitu area Broca (warna hijau tua) dan sensory speech area, yaitu area Wernicke (lingkaran warna biru). 
· Gaya belajar spasial-visual terletak pada cluster hemisphere (warna kuning muda/visual ashttp sociation area dan kuning tua bagian belakang/visual cortex), tepatnya bagian lobus occipital. 
· Gaya belajar musik terletak pada cluster premotor area (warna hijau), yaitu bagian lobus temporal kanan. 
· Gaya belajar kinestetik terletak pada: 

1. Cluster cerebellum (otak kecil), yakni terletak di bagian belakang kepala, dekat dengan ujung leher bagian atas (warna kuning garis cokelat). 
2. Cluster ganglia basal, merupakan sekelompok struktur besar di tengah otak yang mengelilingi sistem limbic dalam. 
3. Cluster motor cortex, yakni terletak pada primary motor cortex tepatnya di tengah otak (ditunjukkan oleh warna hijau tua dalam Gambar 1). 

· Gaya belajar interpersonal terletak pada cluster prefrontal area (lobus frontal) dan lobus temporal dan sistem limbic dalam, juga pada cluster hemisphere (visual association area dan visual cortex), tepatnya bagian lobus occipital. 
· Gaya belajar intrapersonal terletak pada cluster prefrontal area (lobus frontal) dan lobus parietal, serta sistem limbic, yang terletak di bagian tengah otak dan membungkus batang otak. 
· Gaya belajar naturalis terletak pada cluster lobus parietal kiri, yang tepat berada di bagian tengah otak. 

B. Seluruh pancaindra tubuh: Merupakan sumber modalitas belajar, di mana setiap bagian tubuh mewakili: 
· Indriawi telinga, lidah (mulut) modalitas belajar auditori, melalui: mendengar dan berbicara. 
· Indriawi mata, modalitas belajar visual, melalui: melihat dan membaca. 
· Indriawi kulit dan hidung, modalitas belajar taktil, melalui: memegang dan memanipulasi. 
· Indriawi tangan, modalitas belajar kinestetik, melalui: aktivitas gerak seperti menulis. 

Modalitas belajar adalah cara termudah informasi masuk ke dalam otak melalui pancaindra yang kita miliki. Pada saat informasi tersebut ditangkap oleh panca indra, maka bagaimana informasi tersebut diserap, diatur dan diproses di otak, disebut gaya belajar. Modalitas belajar seseorang berpengaruh pada kecepatan otak menangkap informasi dan kekuatan otak menyimpan informasi tersebut dalam ingatan atau memori. 

Barbara Prashnig (1998), ahli dan penemu learning styles analysis (LSA) asal Austria, mengkategorisasi modalitas belajar dengan empat modalitas, yaitu: 

1. Auditori: Aktivitas yang melibatkan unsur indriawi telinga—mendengar, serta indriawi lidah— rasa (berbicara). Modalitas auditori dapat dilakukan dengan cara mendengar dan berbicara: melalui suara, musik, nada, irama, dialog, cerita, debat, tanya jawab, dan lain-lain yang terkait. 

2. Visual: Aktivitas yang melibatkan unsur indriawi mata— melihat. Modalitas visual dapat dilakukan dengan cara melihat: melihat gambar/warna, membaca gambar/warna dan membedakan gambar/warna, melihat dan menelaah catatan, diagram, tabel, mind mapp, dan hal-hal lain yang terkait. 

3. Taktil: Aktivitas yang melibatkan unsur indriawi hidung—mencium, dan indriawi kulit—meraba (merasakan). Modalitas taktil dapat dilakukan dengan cara memanipulasi dan memegang. 

4. Kinestetik: Aktivitas yang melibatkan unsur indriawi kulit—meraba (merasakan), termasuk unsur gerakan olah tubuh. Modalitas kinestetik dapat dilakukan dengan cara melakukan untuk merasakan, di antaranya: menulis, melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan tubuh, koordinasi antartubuh, seperti memegang dan mempraktikkan alat ukur satuan milimikro dan hal-hal lain yang terkait. 

Modalitas belajar dan gaya belajar merupakan unsur-unsur berbasis biologis atau genetis, yang respons pengaruhnya berasal dari lingkungan dan kebiasaan-kebiasaan yang tercipta dalam masa yang panjang. Jika, modalitas belajar adalah cara termudah dalam menyerap informasi, maka gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Modalitas dan gaya belajar merupakan satu kesatuan sistem yang mendukung kualitas penyimpanan informasi dalam memori jangka panjang. 

Untuk memaksimalkan fungsi dan kegunaan “cluster-cluster” otak, guru hendaknya memiliki informasi mengenai jenis gaya belajar dan modalitas siswa. Informasi ini dapat diperoleh saat proses penerimaan siswa baru. Jika, informasi gaya belajar dan modalitas belajar sudah diperoleh, maka guru menentukan strategi pengajaran yang sesuai. 

Sahlberg (2014), guru SD dan mantan pejabat di Kementerian Pendidikan Finlandia menyebut guru terbaik adalah guru yang belajar untuk mengajar dengan baik dan benar. Mengajar siswa sesuai gaya belajar dan modalitas belajarnya menjadi lingkup kualitas guru di Finlandia. Pantaslah jika negara Finlandia menjadi model pendidikan terbaik yang menjadi rujukan dunia.

Demikianlah sedikit pembahasan dari admin mengenai gaya belajar setiap anak yang berbeda satu sama lain, walaupun dengan anak kembar. Mudah-mudahan bermanfaat. terima kasih. Wassalamu'alaikum. Wr. Wb.

0 Response to "Belajar Itu Menggunakan Otak, Bukan Dengkul."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel