Cara Pemberian Obat yang Benar dan Lengkap Beserta Penjelasannya

smkfarmasi.guruindonesia.id - Disamping faktor formulasi, cara pemberian obat turut menentukan cepat lambatnya dan lengkap atau tidaknya penyerapan obat oleh tubuh. Tergantung pada efek yang diinginkan, yaitu efek sistemis (di seluruh tubuh) atau efek lokal (setempat), keadaan pasien dan sifat-sifat fisika-kimia obat. 

Terdapat 2 efek dalam pemberian obat, yaitu efek sistemis dan efek lokal. Berikut adalah cara pemberian obat yang baik dan benar.

A. Efek Sistemis


1. Oral

⠂Pemberiannya melalui mulut
⠂mudah, murah, aman, nyaman, lazim dan praktis pemakaiannya
⠂Digunakan untuk mencapai efek lokal dalam usus misalnya untuk obat cacing dan obat diagnostik untuk pemotretan lambung-usus
⠂Digunakan untuk sterilisasi lambung-usus pada infeksi atau sebelum operasi menggunakan antibiotika
⠂Tidak dapat digunakan untuk pasien tidak sadar dan mengalami mual, muntah, maupun gangguan menelan
⠂Tidak dapat diterapkan untuk obat yang bersifat merangsang (emetin, aminofillin) atau yang diuraikan oleh getah lambung dan menyebabkan muntah (garam besi dan salisilat)
⠂Dapat terjadi inaktivasi oleh hati sebelum diedarkan ke tempat kerjanya

2. Oromukosal

Pemberian melalui mukosa di rongga mulut, ada dua macam cara yaitu :

Sublingual
⠂Obat diletakkan dibawah lidah
⠂Terjadi resorpsi oleh selaput lendir ke vena-vena lidah yang sangat banyak
⠂Obat langsung memasuki peredaran darah tanpa melalui hati (tidak di inaktivakan)
⠂Efek yang diinginkan tercapai lebih cepat
⠂Efektif untuk serangan jantung dan asma
⠂kurang efektif untuk digunakan terus menerus karena dapat merangsang selaput lendir mulut
⠂Bentuk tablet kecil contoh Isosorbid tablet

Bucal
⠂Obat diletakkan diantara pipi dan gusi
⠂saat ini sudah jarang digunakan

3. Injeksi

Adalah pemberian obat secara parenteral, yaitu dibawah atau menembus kulit/selaput lendir. Suntikan atau injeksi digunakan untuk :
⠂Memberikan efek obat dengan cepat
⠂Terutama untuk obat-obat yang merangsang atau dirusak oleh getah lambung
⠂Diberikan pada pasien tidak sadar, atau tidak mau bekerja sama

Efek samping cara pemberian obat melalui infeksi pada pasien yang disuntik adalah :
⠂Sakit
⠂Mahal
⠂Sulit digunakan
⠂Ada bahaya infeksi
⠂Dapat merusak pembuluh darah atau saraf

Macam-macam jenis suntikan

Subcutan/hipodermal (SC)
Penyuntikan dibawah kulit yaitu pada jaringan konektif atau lemak dibawah dermis, sepeti lengan atas bagian luar, paha bagian depan dan perut, hanya digunakan untuk obat yang tidak merangsang dan larut dalam air maupun minyak, efenya agak lambat dibandingkan dengan IM atau IV, mudah digunakan contohnya vaksin, obat-obatan preoperasi, narkotika, insulin dan heparin.

Intra Muscular (IM)
Penyuntikan yang dilakukan pada otot seperti otot pantat atau lengan atas, absorbsi berlangsung lebih cepat dibandingkan subkutan, berlangsung 10 - 30 menit karena lebih banyak suplai darah ke otot tubuh. Tetapi cara ini dapat menyebabkan luka kulit dan rasa nyeri yang menimbulkan ketakutan pada pasien. Untuk memperpanjang kerja obat sering dipakai larutan atau suspensi dalam minyak. Injeksi ini dilakukan dengan beberapa tujuan yaitu untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan melalui subcutan.

Intra Vena (IV)
Penyuntikan dilakukan didalam pembuluh darah vena dengan tujuan agar obat dapat beraksi dengan cepat yaitu 18 detik, misalnya dalam keadaan darurat atau obat yang cepat metabolisme dan ekskresinya, guna mencapai kadar plasma tetap tinggi. Karena dimasukkan ke dalam aliran darah, maka dapat mengakibatkan reaksi-reaksi hebat seperti turunnya tekanan darah secara mendadak, syok dan sebagainya. Bahaya trombosis dapat terjadi bila penyuntikan dilakukan terlalu sering pada satu tempat. Pemberian obat secara intra vena dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu langsung disuntikkan ke dalam pembuluh vena dan melalui karet pada selang infus pada infus intra vena.

Intra Arteri (IA)
Penyuntikan kedalam pembuluh darah nadi, dilakukan untuk membanjiri suatu organ misalnya pada penderita kanker hati.

Intra Cutan (IC)
Penyuntikan dilakukan didalam kulit, absorbsi sangat perlahan misalnya test tuberculin dari Mantoux.

Intra Lumbal 
Penyuntikan dilakukan ke dalam ruas tulang belakang (sumsum tulang belakang) misalnya anestesia umum.

Intra Peritonial
Penyuntikan ke dalam ruang di rongga perut.

Intra cardinal 
Penyuntikan ke dalam jantung

Intra Pleural
Penyuntikan ke dalam rongga pleura

Intra Articuler
Penyuntikan ke dalam celah-celah sendi

4. Implantasi

Obat dalam bentuk pellet steril dimasukkan dibawah kulit dengan alat khusus (trocar). Terutama digunakan untuk efek sistemik yang lama, misalnya obat-obat kontrasepsi yang mengandung hormon kelamin (estradiol dan testoteron). Akibat resorpsi yang lambat satu pellet dapat melepaskan zat aktifnya secara teratur selama 3 sampai 5 bulan.

5. Rektal

Obat dalam bentuk enema atau suppositoria diberikan melalui rektal atau dubur. Enema adalah bila sejumlah besar obat dalam bentuk cairan diberikan secara rektal.

Suppositoria adalah bila obat berbentuk kapsul setengah padat yang panjang dan besar dimasukkan ke dalam rektal.

Cara ini memiliki efek sistemik lebih cepat dan besar dibandingkan peroral, tidak mengiritasi saluran pencernaan dan beberapa obat tertentu dapat di absorbsi dengan baik melaui dinding permukaan rektum dan baik sekali digunakan untuk obat yang mudah dirusak oleh asam lambung. Perlu diberitahukan kepada pasien bahawa pemakaian bentuk sediaan ini harus dalam keadaan berbaring ke kiri setelah obat masuk pasein harus diam dalam keadaan terlentang selama 30 menit untuk mencegah peristatik yang menyebabkan obat keluar kembali. Penyimpanan obat dalam bentuk suppositoria harus di lemari es karena dapat meleleh dalam suhu kamar. 

6. Transdermal

Cara pemakaian melalui permukaan kulit berupa plester, obat menyerap secara perlahan dan kontinyu masuk kedalam sistem peredaran darah, langsung ke jantung. Umumnya untuk gangguan jantung misalnya Angina Pectoris, tiap dosis dapat bertahan 24 jam contohnya Nitrodisk dan Nitroderm TTS (Theurapetic Transdermal System) dan preparat hormon.

B. Efek Lokal 


1. Kulit (Percutan)
Obat diberikan dengan cara digosokkan, ditepukkan, disemprotkan dan dioleskan pada permukaan kulit. Obat dapat berbentuk salep, cream dan lotion.

2. Inhalasi
Obat disemprotkan untuk dihirup melaui hidung atau mulut dan penyerapan dapat terjadi pada selaput mulut, tenggorokan dan pernapasan. Contoh : bentuk sediaan gas, zat padat atau aerosol.

3. Mukosa Mata, Hidung dan Telinga
Obat diberikan melalui selaput/mukosa mata, hidung atau telinga. pada obat tetes mata dapat berbentuk obat tetes atau salep, karena sifat selaput lendir dan jaringan mata lunak dan responsif terhadap obat maka kadar obat tidak boleh lebih dari 2%. Obat tetes hidung biasanya diberikan dengan tujuan menimbulkan efek astringen yaitu memvasokontriksikan selaput lendir hidung yang bengkak, dapat pula digunakan untuk menyembuhkan infeksi pada rongga atau sinus hidung. Sedangkan obat tetes telinga untuk mengatasi radang pada rongga telinga atau bertujuan untuk membersihkan kotoran pada telinga.

4. Intra vaginal
Obat diberikan melalui selaput lendir atau mukosa vagina, bertujuan untuk mengobati infeksi atau menghilangkan rasa nyeri atau gatal pada vagina, seperti oba anti fungi dan pencegah kehamilan. Dapat berbentuk ovula, salep, cream dan cairan bilas.

5. Intranasal
Obat diberikan melalui selaput lendir hidung untuk mengecilkan (vasokontriksi) selaput atau mukosa hidung membengkak, misalnya Otrivin.

Mudah-mudahan artikel tentang Cara Pemberian Obat yang Benar dan Lengkap Beserta Penjelasannya dapat membantu kita semua di dalam dunia medis atau kesehatan. Penulis berharap kritik dan saran apabila ada kesalahan dalam penulisan artikel maupun makna yang terkandung di dalam artikel.

0 Response to "Cara Pemberian Obat yang Benar dan Lengkap Beserta Penjelasannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel